Tarian Dukacita Pa' Joge' dari Toraja

Tarian Dukacita Pa’ Joge’ dari Toraja

Toraja Gallery
Tarian Dukacita Pa' Joge'

"Makarorrong mo te tondok, sayang, Ma'dusen, te na pemboko'i nenek tang ki eloran
Tang di bela ussalai, tang di kulle ullendai, petamba Puang, meongli' To Tumampa
"

"Sepi sudah kampung ini, sayang, berduka, ditinggalkan nenek yang tidak kami ikhlaskan
Tak kuasa menghindar, tak mampu melewatkan panggilan Tuhan, Sang Pencipta memanggil
"

Itulah sepenggal lirik lagu duka yang dinyanyikan sebagai ungkapan kesedihan yang mendalam, duka nestapa keluarga yang ditinggalkan oleh nenek yang disayangi. Belum iklas untuk melepaskannya. Belum rela untuk ditinggalkannya.

Di depan ruang penerimaan tamu, nampak beberapa orang anak dara dalam busana khas Toraja, melantunkan nyanyian sedih sembari mengerakkan kaki dan tangannya seirama dengan lagunya. Sesekali mengibaskan sapu tangan dan kipasnya, membawakan tarian Pa’ Joge atau Ma’ Joge, tarian kedukaan. Tanpa iringan musik, ungkapan duka dibawakan dalam bahasa Toraja tingkat tinggi, atau bahasa Tominaa.

Pa’ Joge atau Ma’ Joge adalah tarian khas suku Toraja

Tarian Dukacita Pa' Joge' dari Toraja
Tarian Pa’ Joge diadakan di depan ruang penerimaan tamu.

Pa’ Joge berarti Penari atau yang berjoget. Sering juga di sebut Ma’ Doge berarti Menari.

Tarian Ma’ Joge adalah tarian khas suku Toraja, yang hanya dilakukan pada upacara pemakaman adat Toraja. Yaitu pada upacara pemakaman besar atau upacara pemakaman tingkat tinggi. Sehingga kesenian ini tidak begitu di kenal luas. Karena agak jarang ditemui.

Tarian Dukacita Pa’ Joge’ diadakan pada prosesi menerima tamu

Penari memakai pakaian traditional Toraja

Pemakamam adat Toraja melalui beberapa tahapan prosesi, salah satunya adalah prosesi menerima tamu. Pada hari menerima tamu, pihak keluarga yang sedang melakukan upacara pemakaman, akan menyambut semua teman, kerabat, kenalan, dan siapa saja tamu yang datang untuk turut berbelasungkawa. Pada hari itulah diadakan tarian Pa’ Joge.

Tarian Pa’Joge ditampilkan pada saat rombongan tamu sudah duduk di dalam ruang penerimaan tamu. Sambil menikmati minuman dan sajian ringan, para tamu akan disapa oleh pihak keluarga, sambil menyaksikan Tarian Pa’Joge.

Tarian ini merupakan ungkapan terima kasih dan penghargaan yang besar kepada tamu yang datang. Juga sebagai nyanyian dukacita keluarga atas berpulangnya anggota keluarga yang dicintai. Demikianlah setiap rombongan tamu yang memasuki ruang penerimaan tamu, akan disambut dengan tarian Pa’ Joge.

Untuk melihat suasana penerimaan tamu, silakan tonton videonya di sini.

Disore hari, setelah selesai upacara menerima tamu, penari lalu menari sekali lagi di hadapan keluarga untuk pamitan. Pada saat mereka sedang menari, maka anggota keluarga dan para tamu boleh memberikan saweran kepada penari, yang disebut Ma’ toding.

Seperti yang bisa kita lihat di video di atas, yang didokumentasikan pada upacara pemakaman Ne’ Nesry, di Desa Ao’Gading , Lilikira, Toraja Utara, 2018.

Demikianlah sekilas ulasan tentang Tarian Pa’ Joge dari Toraja, Sulawesi Selatan.

Jangan lupa bagikan tulisan ini untuk memperkenalkan kesenian asli dari Toraja.

Silakan klik di sini untuk membaca-baca tentang adat budaya Toraja.

Toraja Utara, Sulawesi Selatan, Indonesia

Latest posts by yosintaparuruk (see all)

8 comments

Leave a Reply