Schwarze Walder Cake

Schwarze Walder Cake, Stay Home Challenge No.11

LIVE IN DUBAI
Schwarze Walder Cake
Schwarze Walder Cake, pakai coffee liqueur Kahlua

Kalau ada yang pernah membaca tulisan saya sebelumnya, mungkin ada yang heran, kenapa saya tidak menulis lagi, padahal saya lagi challenge diri saya untuk berkreasi dan menulis setiap hari selama masa lockdown karena Covid-19. Dan saya sudah sampai di Challenge No.10, lalu berhenti. Kalau mau lihat challenge sebelumnya, klik di sini saja.

Artikel terakhir saya tanggal 24 April 2020, dan setelah itu terpaksa berhenti menulis selama kurang lebih 12 hari, karena laptop rusak. Entah kenapa, tiba-tiba saya tidak bisa login ke web dan media sosial lainnya dari laptop. Selalu dapat notifikasi bahwa tidak ada internet connection. Padahal suami saya tidak ada masalah internet, dan kami pakai wifi DU yang sama. Setelah beberapa kali mencoba mengotak-atik, dan tidak berhasil memperbaikinya, akhirnya saya menyerah, dan menunggu bala bantuan suami untuk mengeceknya.

Dan pagi ini, diantara kesibukan beliau, akhirnya sempat juga beliau menengok layar monitor saya. Setelah beberapa menit beliau otak-atik, namun tidak bisa menyelesaikannya, akhirnya saya tarik kembali laptop saya, lalu mulai lagi otak-atik sendiri. Saya tidak mau mengambil waktu beliau terlalu lama, karena beliau juga sibuk.

Setelah cek window update, cc cleaner, dan klik sana sini, akhirnya internet settingnya saya ubah dan ternyata itu menyelesaikan masalah. Lega rasanya. Sebenarnya hanya klik-klik beberapa options, tapi dasar saya yang tidak paham mengubah menu settingan internet di laptop maka jadinya tetap saja susah. Tapi ya sudah, saya sudah bisa pakai laptop lagi, dan mesti mulai menulis lagi.

Lock Down di Dubai mulai dibuka

Jadi selama 12 hari tidak menulis, bukan berarti challenge saya berkarya setiap hari juga berhenti. Tidak. Di antara kesibukan bersih-bersih rumah, saya selalu selang-selingi setiap hari dengan belajar menjahit, belajar memasak dan belajar membuat kue. Bahkan ketika kini akhirnya lockdown di Dubai mulai dibuka, saya masih melanjutkan kegiatan belajar tersebut.

Memang mulai dari 1 May 2020, pemerintah Dubai sudah mengijinkan penduduknya untuk keluar rumah, dengan tetap menerapkan social distance, pakai masker dan sarung tangan. Penduduk sudah tidak perlu lagi mendapat surat izin untuk keluar rumah. Mall-mall, toko-toko, dan perkantoran mulai pelan-pelan dibuka kembali. Tapi sebenarnya masih disarankan untuk tetap tinggal di rumah, dan hanya keluar untuk hal-hal yang benar-benar mendesak, karena Corona sebenarnya belum berakhir.

Mengunjungi Jebal Ali dan Dubai Maritime City

Karena selama lockdown sekitar satu bulan lebih, saya dan suami tidak pernah pergi melihat kondisi kapal, sementara di atas kapal ada beberapa orang yang terus bekerja. Maka yang pertama kami lakukan adalah pergi ke Jebal Ali untuk mengunjungi dan melihat progress pekerjaan di atas kapal. Namun cuma sekitar sejam saja, kami langsung tinggalkan bargenya.

Lalu dalam perjalanan pulang ke rumah, kami mencoba mampir ke sebuah hypermarket, Park and Shop, untuk membeli sedikit keperluan dapur, sekaligus ingin melihat bagaimana situasi di toko. Pengunjungnya masih sedikit saja, dan semuanya tampak sangat hati-hati dan betul-betul menjaga social distance. Oh yah, saya sempat juga membeli sebuah loyang baru untuk buat cake, karena kebetulan raknya berada agak di depan, sehingga gampang melihatnya.

Lalu keesokan harinya, saya mesti pergi ke sebuah perusahaan di area DMC (Dubai Maritime City), untuk verifikasi material sebelum mereka mulai fabrikasi sepasang spud (tiang pancang untuk tongkang) seperti yang pernah dibuat sebelumnya bulan December tahun lalu, 2019. Saya tetap pakai masker, kaus tangan dan mencoba menerapkan social distance semaksimal mungkin. Tidak sampai sejam, saya sudah tinggalkan tempat, dan tentu saja kali ini, tidak ada jabat tangan atau say hello ke orang-orang di perusahaan tersebut.

Karena kali ini saya diantar suami, maka sebelum pulang kerumah, kami coba singgah di carrefour untuk membeli beberapa bahan untuk belajar membuat kue, yang saya belum punya. Untunglah suami mengerti kalau saya lagi giat-giatnya belajar, jadi mau juga diajak singgah sebentar untuk belanja.

Schwarze Walder Cake

Schwarze Walder Cake
Resep Cake Istimewa Warisan, Nila Chandra

Sebelumnya saya memang tidak terlalu banyak menghabiskan waktu di dapur, namun karena saya hobby membeli buku, maka tentu saja saya juga punya banyak buku memasak. Salah satu buku saya yang sempat saya bawa ke Dubai adalah Resep Cake Istimewa Warisan Nila Chandra. Saya lupa dulu beli di mana, tapi stiker harganya masih terbaca, harganya Rp.35.000,-

Nah, kemarin pagi ketika sementara sarapan dengan suami, saya buka-buka buku resep cake Nila Chandra tersebut. Lalu suami saya pun menarik bukunya, bolak-balik sebentar, lalu menyodorkannya kembali ke saya, sambil menunjuk foto cake Schwarze Walder Cake. “Try this for practice”. Coba ini untuk praktek, kata dia.

“Tapi saya tidak punya TBM”, kata saya.

“Tidak apa, kan kamu sudah punya Backing Powder, itu sama saja, pakai itu saja” , jawab beliau.

“Tapi saya juga belum punya loyang bulat, dan mesti pakai 2 loyang”, lanjut saya.

“Pakai saja loyang bulat yang kamu punya, tidak apa-apa tidak sama persis, yang penting jadi”, balas beliau.

“Oke, sip, saya akan buat sekarang”. Sepertinya beliau sudah mulai ketagihan makan kue buatan saya. Hehehe.

Amateur Kitchen Princess berani terima tantangan, Schwarze Walder Cake

Schwarze Walder Cake
Resep Schwarze Walder Cake

Akhirnya tanpa pikir panjang, saya langsung mulai membuat kuenya. Dengan mengikuti semua petunjuk cara pembuatannya, tidak ada yang susah. Cuma kali ini saya mesti pakai hand mixer, bukan mixer yang ada dudukannya di atas loyang, jadi tidak perlu dipegang. Kenapa? Karena waktu bikin kue sebelumnya, setelah habis menimbang gula, gulanya saya langsung tuang masuk ke dalam loyang yang sudah berisi telur. Dan ternyata ada yang keras. Saya pikir, tidak apa-apa, cuma sedikit saja. Namun ternyata gocokan mixernya patah di sambungan antara gocokan dan batangnya. Huh, untung saya tidak mesti buat incident reportnya hehehe..

Dan untung satu lagi, karena masih ada mixer tangan, yang bisa dipakai. Lalu semuanya aman-aman saja, cuma agak sedikit heran ketika saya memasukkan tepung ke dalam bahan lain yang sudah dimix. Adonannya tidak terlalu halus, tapi ada seperti butiran-butiran pasir di adonannya. Tapi karena saya tidak biasa bikin kue, jadi saya pikir, oh mungkin memang seperti itu.

Butter Cream Terlalu Cair

Setelah saya keluarkan dari ovendan dinginkan, suami saya kasih saya butter cream dalam kemasan kotak. Setelah saya buka tutupnya, saya mau langsung oleskan butter cream di cakenya. Tapi kok creamnya cair sekali ya? Saya jadi heran. Akhirnya saya bilang ke suami bahwa creamnya tidak bisa dipakai karena cair.

Tentu saja suami saya ketawa-ketawa. Dia lalu menjelaskan, bahwa creamnya mesti diaduk dulu dengan mixer sampai menjadi kental baru bisa dipakai. Ohhhh begitu? Tepuk jidat saya, sambil terbahak-bahak…

Beliau lalu mengambil mangkuk, menuang cream ke dalam mangkok, menambahkan sedikit gula halus, lalu minta saya untuk mix creamnya. Ketika beliau cek, creamnya sudah jadi kental, dia lalu bilang “Now you can use it. Good luck with your decoration…but wait, how do you want to make the shaved chocolate”. Dia sudah mau beranjak dari dapur, akhirnya balik lagi bertanya. “Maybe you can use the cheese greater”. “Oh oke, I will try it”, jawab saya, sebelum dia menghilang naik ke lantai dua.

Nah, setelah saya tutup cakenya dengan butter cream, saya lalu mulai mencoba beberapa alat untuk membuat parutan coklatnya. Hasil parutannya kecil-kecil tidak seperti di photo. Akhirnya googling lagi, bagaimana cara membuat serutan coklat. Setelah baca-baca beberapa artikel, saya jadi tahu bahwa coklatnya mesti dibiarkan sebentar sampai tidak terlalu keras, dan lembek sedikit,agar mudah diserut.

Ilmu Baru

Dapat dua ilmu baru hari ini. Pertama, yaitu cara membuat butter cream dan yang kedua yaitu cara membuat serutan cokelat untuk menghias cake.

Dan tadaaaaa inilah hasil kerja keras dari jam 9 sampai jam 2 siang. Of course lama sekali karena saya kerjanya pelan sekali, bolak-balik baca resep, menakar bahan persis-persis, jadi pelan-pelan sekali, dan namanya juga tidak terbiasa, jadi pasti lelet lah…

The Result …. Schwarze Walder Cake, Stay Home Challenge No.11

“Sayang… can you see my cake?”. Teriak saya dari dapur, ketika cakenya sudah saya taburi icing sugar, dan sudah maksimal dekorasinya, menurut saya :-).

Schwarze Walder Cake
Schwarze Walder Cake pertama saya

“Waww looks nice. Let me take the picture”. Hehehe, lumayanlah. Senyum sumringah saya, setidaknya presentasinya tidak begitu buruk :-). Sebagai baker amateur, pujian sedikit pun, sangat berarti guys… . You know what I ment! Hahahaa

Don’t jugde a book by It’s cover

Don’t jugde a book by it’s cover, adalah sebuah pepatah dalam bahasa Inggris. Terjemahannya yang sering kita dengar yaitu “Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya”. Makna dari pepatah atau kiasan ini, kurang lebih adalah “Jangan menilai sesuatu atau seseorang dari tampilan luarnya saja”.

Pepatah ini tiba-tiba muncul di benak saya, ketika saya selesai mengambil foto cakenya, dan mencoba potongan pertama. Awww, kenapa agak keras sedikit ya? padahal saya harap akan lembut cakenya. Rasanya sih enak sekali, karena bahannya itu sendiri sudah enak. Cuma teksturenya saja yang agak keras.

Ahhh, pepatah tersebut cocok sekali. Kalau melihat penampilan luarnya saja, bayangannya bahwa dalamnya pasti empuk. Ternyata tidak selamanya yang kelihatan cantik dari luar, akan otomatis cantik dan sempurna juga di dalamnya.

Persis sama dengan kehidupan saya. Mungkin kelihatan bagus semua, kelihatan enak, seperti postingan-postingan saya di sosial media. Tapi guys, sebenarnya tidak demikian. Tidak ada kehidupan yang sempurna, luar dalam. Dalam keseharian saya, sayapun punya banyak hal yang tidak enak, keras, tidak lembut. Tapi saya memilih untuk menampilkan yang enak saja, yang bagus dilihat dan enak dibaca saja.

Memilih energi yang positif dari pada sebaliknya. Memberi cerita gembira lebih jauh bermanfaat dari pada cerita sedih. Cerita gembira akan membawa perasaan gembira, terhadap saya sendiri dan juga orang yang membaca ceritanya. Mengalirkan energi positif, kegembiraan bukan sebaliknya. Itu adalah pilihan saya.

Apalagi di masa karantina Covid-19 ini, dimana semua hal menjadi tidak bisa diprediksi, dan banyak hal yang diluar dari kendali kita. Hal ini bisa membuat kita jadi tidak bahagia, kurang bersyukur, kurang sabar, kuatir dan was-was. Perasaan tersebut mesti dilawan, agar kita bisa keluar sebagai pribadi yang lebih baik. Dan meningkatkan level kebahagian kita sendiri, dimana kebahagian sebenarnya adalah dari dalam diri kita sendiri. Kita tidak membiarkan situasi disekitar kita yang menentukan tingkat kebahagian diri kita sendiri.

Semoga semua mahluk berbahagia.

Selamat Hari Raya Waisak.

Latest posts by yosintaparuruk (see all)

Leave a Reply