RUFINUS RUMPU & KRISTINA REKEN – Cinta Sehidup Semati

LIVE IN DUBAI

Dubai 21 July 2020. Dalam diam dan linangan air mata, kulihat lagi video yang dibuat oleh cucu -cucu dari Mama dan Papa, yang mereka buat 2 bulan lalu, waktu Mama sedang sakit. Lalu muncul dalam ingatan, kenangan hidup Mama dan Papa… Hidup mereka penuh berkat dan cinta mereka adalah Cinta Sehidup Semati.

Kami 8 orang bersaudara dan puluhan cucunya, merasa sangat bersyukur dan penuh berkat karena bisa melihat perjalanan hidup kedua orang tua kami yang sangat sederhana namun penuh cinta kasih.

Mama Papa adalah pasangan suami istri yang sangat harmonis, rukun, sangat menyayangi satu sama lain, dan hampir tidak pernah berpisah dalam waktu lama. Seingat saya, paling lama mungkin 3 mingguan , kalau Papa lagi pergi bertugas ke daerah Pangngala’, Baruppu’, Awan, dll daerah terpencil. Selain itu mereka tidak pernah berpisah, kemana-mana selalu bersama.

Mama dan Papa betul -betul menghabiskan waktu mereka sehari – hari, menjalani hidup sederhana dan sangat dekat satu sama lain. Mulai dari pagi-pagi sekali, ketika masih di tempat tidur, mereka sudah mulai bercerita berbisik-bisik, walapun sebenarnya kami dengar. Lalu duduk di meja makan setiap pagi berhadap-hadapan berdua, sarapan minum kopi, sambil bercerita lagi. Kalau Papa tidak pergi kerja dan makan siang di rumah, maka pasti mereka akan duduk makan siang bersama sambil bercerita lagi. Lalu sore hari, duduk-duduk lagi minum kopi, cerita lagi. Sampai mau tidur pun, masih kedengaran mereka bercakap-cakap membicarakan apa saja.

Lalu ketika ada seorang dari mereka yang sakit, maka yang seorangpun akan sakit juga. Sehingga sudah jadi hal biasa buat kami anak-anaknya, ketika salah seorang dari mereka masuk rumah sakit, maka kami biasanya langsung pesan satu kamar yang bisa untuk 2 pasien atau minimal kamar sebelah menyebelah. Karena kami sudah tahu bahwa pasti kedua-duanya akan sakit.

Begitulah ketika Papa sakit dan akhirnya pergi menghadap Sang Pencipta 3 tahun lalu. Waktu itu sebenarnya Mama yang sakit duluan, lalu Papa juga sakit dan dirawat berdua di rumah sakit . Lalu Mama baikan dan Papa yang terus sakit. Lalu Papa dibawah ke rumah sakit ke Makassar, tapi waktu tiba di rumah sakit Siloam, justru Mama lagi yg duluan dimasukkan ke UGD dan ditangani, baru Papa turun dari mobil dan masuk juga ke UGD, karena sebenarnya Papa yg sakit waktu itu. Akhirnya hari pertama di rumah sakit, mereka menempati ruangan berbeda, lalu mama sembuh dan menemani Papa perawatan sekitar sebulan tidak pernah meninggalkan kamarnya untuk menemani Papa, sampai akhirnya Papa meninggalkan kami semua, 17.02.2017.

Ketika Papa baru pergi, doa kami anak dan cucu, siang dan malam, memohon agar Mama diberi kesehatan dan kekuatan, untuk melalui proses pemakamam Papa. Karena kami sangat kuatir seberapa kuat Mama bisa menhadapi kepergian Papa. Puji syukur, waktu itu mujizat Tuhan terjadi dalam kehidupan kami, dan Mama bisa sehat selama persiapan sampai selesai pemakaman Papa. Itu sudah anugerah sangat besar buat kami.

Setelah pemakaman papa selesai, kami jelas sekali melihat dan rasakan kesedihan dan kehilangan teramat dalam yang Mama alami. Tidak mudah bagi Mama menjalani hari-harinya tanpa Papa. Sehingga kami semua anak dan cucu lalu fokus semampu kami untuk menemani, menghibur, menyemangati Mama dan mencoba melakukan apa saja yg Mama mau dan memberi apa saja yg kami harap bisa memberi semangat kepada Mama.

Tapi cinta Mama sama Papa lebih kuat dari pada cinta kami anak dan cucunya. Mama sering cerita bahwa Papa selalu datang temani Mama. Selama 3 Tahun kepergian Papa, cuma 1 kali saja, kami berhasil membawa keluar Toraja, ke rumah kakak saya. Itupun kami akalin, diajak ke rumah cucu di Rantepao, lalu langsung di ajak keluar kota, pagi-pagi tanpa memberi kesempatan kepada Mama untuk berpikir. Karena kalau tidak begitu, maka Mama pasti tidak mau tinggalkan rumah dan kampung. Padahal kami berharap, supaya Mama bisa keluar rumah dan sedikit terhibur. Tapi kata Mama, Mama tidak mau tinggalkan Papa. Dan waktu di rumah kakak sayapun, lewat mimpi, Papa juga datang minta Mama supaya pulang ke rumah dan jangan pergi jauh-jauh tinggalkan Papa.

Dan begitu banyak pengalaman batin kami sekeluarga, yang memberi kami kesan bahwa ikatan batin Mama dan Papa masih sedemikian kuatnya, walaupun Papa sudah pergi. Kami selalu merasakan kehadiran Papa untuk menemani mama dan melindungi kami anak & cucunya. Sampai kemudian kami diberi lagi petunjuk sama Papa, bahwa Papa yang mau membawa Mama pergi bersamanya, walaupun sakit Mama tidak berat. Papa mau pulang ambil Mama. Karena Cinta mereka Sehidup Semati.

Sesungguhnya kami anak dan cucu berusaha semampu kami dan berdoa siang malam, agar Mama dikasih lebih lama lagi waktu bersama kami. Secara manusiawi, kami tidak mau Tuhan dan Papa datang menjemput Mama. Karena kami baru mulai belajar iklas akan kepergian Papa. Dan sekarang kami juga mesti mengiklaskan Mama untuk pergi bersama Papa, menghadap Sang Pencipta.

Dalam waktu 3,5 tahun sejak Papa pergi, dalam kesedihannya, Mama lalu melanjutkan memberkati kami semua anak-anaknya, membimbing kami, berbicara satu persatu kepada kami, memberi nasihat satu persatu kepada kami, memberi arahan kepada kami apa yang harus kami lakukan kalau Mama sudah pergi. Mama menyiapkan kami semua untuk ditinggalkannya, cuma 3,5 tahun lamanya. Lalu Mama pamit kepada kami semua satu persatu.

Kini sudah sempurna semuanya. Begitu hebat dan tak terselami, cara Tuhan memberi berkat kepada keluarga kami, mengatur rencana dan waktu untuk menyempurnakan kehidupan Papa dan Mama, dan mempersiapkan kami anak dan cucunya, untuk mereka tinggalkan.

Mama, masa hidupmu di dunia ini sungguh penuh berkat dan kini Mama pergi bersama Papa setelah menyelesaikan tugas mulia Mama dan Papa, membimbing kami anak dan cucu, keturunanmu.

21 July 2020, 3,5 tahun setelah Papa pergi, Tuhan dan Papa membawa Mama untuk memulai tidur panjang Mama. Tepatnya 2 tahun dari waktu kami mulai mempersiapkan perpindahan Papa ke rumah barunya.

Sang Pencipta, kami iklaskan Mama kami kembali kepadaMu. Terima kasih, Engkau masih sudi memberi kesempatan kepada kami semua anak-anaknya untuk minta maaf atas dosa dan kesalahan kami kepada Mama, sebelum Mama pergi tinggalkan kami. Terima kasih Tuhan, masih kasih Mama waktu untuk menyiapkan kami semua untuk ditinggalkan, seperti halnya dulu Engkau memberi waktu kepada Papa untuk mempersiapkan kami semua, sebelum Papa meninggalkan kami.

Seperti Papa, Mama pergi dengan sangat damai dan tenang, dalam gengaman tangan anaknya, diserahkan dengan doa oleh anaknya, dikelilingi anak cucu dan keluarganya dan pergi meninggalkan kami untuk tidur pajang, dengan senyuman amat manis di bibirnya, seperti halnya Papa.
Ya Tuhan, sinarilah dengan Cahaya Surgawi, selimutilah Mama dalam tidur panjangnya, dengan selimut Kerahimanmu. Ampunilah dosa dan kesalahan Mama, dan berilah kebahagian abadi bersama Papa di surga.

Mama….masa hidupmu bersama Papa, sungguh terberkati dan jadi berkat. Doa kami anak dan cucumu, menemanimu dalam tidur panjangmu, dan dalam perjalananMu pulang kepada Sang Pencipta and menemui Papa. Cinta kalian Sehidup Semati. Cucumu BC, bilang bahwa nenek dan kakek seperti Romeo dan Juliet.

Kami anak dan cucumu akan kuat menghadapinya, karena kami percaya bahwa Mama dan Papa sudah bahagia bersama. Dan kami tetap merasakan kehadiran Mama dan Papa yang terus membimbing kami.

Darah, daging, roh kehidupan, selamanya terhubung dan tak terpisahkan. Dan ada nama kami disebut dalam doa Mama dan Papa di surga. Amien.

Mama, tidurlah dalam penuh kedamaian.
.
.

Salam Maria Penuh Rahmat, Terpujilah Engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu Yesus. Oh Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amien.

Latest posts by yosintaparuruk (see all)

2 comments

Leave a Reply