Taplak Meja – Memanfaatkan waktu tinggal di rumah

LIVE IN DUBAI
Taplak Meja

Hayat Villa, Dubai, 15 April 2020

Di pojok kanan bawah layar laptop saya menunjukkan waktu pukul 13.53 AM. Dari belakang meja tulis sesekali saya memandang ke luar jendela, melihat daun pohon palma yang bergoyang goyang, dan derai air hujan kecil-kecil yang turun kira-kira sudah sekitar 2 jam yang lalu.

Ya, hari ini hujan turun di Dubai. Apakah itu hujan buatan atau hujan alami, saya tidak begitu yakin. Tapi kemarin, suami saya sempat bertanya apakah saya memperhatikan adanya pesawat yang sering lewat hari ini. Saya jawab, tidak terlalu memperhatikan, karena setahu saya memang sudah ada satu -dua penerbangan masuk dan keluar Dubai, untuk mengangkut Emiratis kembali ke Dubai dan juga WNA yang urgent untuk dipulangkan ke negaranya, karena terjebak di Dubai. Tapi kata suami saya, mungkin itu adalah pesawat yang sedang melakukan program hujan buatan, karena agak intens datangnya. Dan saat ini pun saya bisa melihat pesawat lewat beberapa kali dalam beberapa menit saja.

Entah benar atau tidak itu hujan buatan, namun karena jarang sekali ada hujan, maka yang jelas setiap kali hujan turun di Dubai, saya seperti melankolis syahdu gitu. Merasa cozzy dan romantis ? Sepertinya begitu, saya rindu merasakan suasana hujan di kampung halaman.

Karantina di rumah

Saya mencoba mengingat sejak kapan kami mulai tinggal di rumah dan tidak keluar rumah sama sekali. Ternyata sudah tiga minggu lebih kami melakukan karantina mandiri di rumah. Keluar rumah hanya sebatas garis depan garasi dan pintu taman belakang.

Sesunguhnya saya takjud akan pemeliharaan Tuhan dan bagaimana Dia mengatur kehidupan kami. Tak henti-hentinya setiap hari, saya mengucap syukur karena hal tersebut, dan karenanya saya merasa nyaman dan tidak kuatir tinggal di rumah, sampai batas waktu pemerintah memperbolehkan keluar rumah lagi.

Kembali flashback bagaimana Tuhan mengatur kehidupan kami. Bulan Januari 2020, saya berada di Indonesia untuk suatu keperluan, dan rencananya akan berada di sana lebih lama. Namun tiba-tiba suami saya menyuruh saya untuk pulang dan waktu saya tiga hari saja untuk beres-beres dan langsung pulang ke Dubai. Waktu itu sudah ada Corona, dan sudah mulai was-was dalam perjalanan, karena pengawasan mulai dilakukan di bandara-bandara. Puji Syukur, perjalanan saya lancar. Tidak terbayang bagaimana seandainya saya tidak cepat-cepat pulang ke Dubai, mungkin saya bisa tertahan di Indo.

Lalu kemudian, kami pindah tempat tinggal dari appartement ke rumah hunian dengan taman kecil di belakang rumah. Ah ini juga salah satu nikmat yang Tuhan rencanakan buat kami. Lagi-lagi saya bisa membayangkan rasanya akan sangat berbeda, seandainya kami masih tinggal di apartment pada saat sudah mulai lockdown. Kami hanya bisa keluar ke balcon. Tapi ternyata rencana Tuhan lebih indah dari yang kami rencanakan. Sekarang kami masih bisa keluar duduk-duduk di taman kecil kami, atau berendam di outdoor Jacuzzi waktu badan sudah pegal-pegal. Nikmat apalagi yang kami mesti minta?

Belum cukup sampai di situ, bagaimana Tuhan memelihara dan mencukupi kebutuhan saya. Awal bulan Februari, ketika kakak saya akan berangkat ke Dubai, tiba-tiba suami saya meminta saya untuk menghubungi kakak saya dan minta tolong pergi ke rumah saya, packing dan bawa mesin jahit saya, yang ada di Batam. Saya memang sudah berencana untuk membawanya sendiri ke Dubai, suatu saat nanti kalau saya pulang ke Batam. Namun suami saya, tiba-tiba ingat dan memaksa sebaiknya di titip saja dibawakan waktu itu juga.

Lagi-lagi saya baru menyadarinya, semua itu seperti direncanakan jauh sebelumnya. Beruntung sekali mesin jahit saya sudah ada di rumah saat ini. Karena mesin jahit ini telah menjadi teman saya setiap hari melewati masa karantina di rumah. Seandainya tidak ada mesin jahit ini, maka entah apa yang akan saya lakukan setiap hari. Saya tidak pintar memasak, dan kalaupun mau belajar memasak pun, bahan untuk memasak juga agak sulit didapatkan saat ini. Lagi-lagi, cuma bisa mengucap syukur setiap hari. Rencana dan rancangan Tuhan, sungguh jauh dan tak terjangkau oleh akal pikiran saya, dan apa yang Tuhan kerjakan lebih indah dan sempurna dari rencana-rencana saya.

Belum sampai di situ, tenyata Tuhan juga tahu, saya akan butuh stock kain dan alat-alat untuk menjahit. Waktu pulang dari Indonesia, saya hanya membawa manik-manik/payet berkantong-kantong dan beberapa potong kain. Tidak ada barang lain. Lalu sekitar dua tiga mingguan sebelum mulai masa karantina, saya rajin sekali pergi ke toko kain dan peralatan jahit. Hanya beli-beli saja dan pikir mungkin nanti ada waktu untuk mulai lagi hobby jahit saja.

Rancangan Tuhan Jauh Lebih Indah dari Rancanganku

Ternyata, semua itu sepertinya sudah direncanakan. Kini saya menjahit hampir setiap hari, bahan dan alat tersedia semua. Suami saya bilang, untung saya ada kesibukan sehingga tidak membuat dia gila, selama harus tinggal di rumah berhari-hari 🙂 Dan memang betul. Seandainya tidak ada kegiatan, maka pasti bisa jadi bosan, jengkel, jadi marah-marah atau mengesalkan. Dan yang merasakan pasti orang di dalam rumah kita.

Karena merasakan rancangan dan pemeliharaan Tuhan yang luar biasa, saya menjalani hari-hari tinggal di rumah dengan penuh rasa syukur dan tidak kuatir akan hari esok. Saya merasa bahwa Tuhan menginginkan saya dan semua orang untuk tinggal di rumah, slow down, menarik rem, diam, tenang, berbicara dengan diri sendiri, menjaga dan merawat diri sendiri, mengisi energi baru, menikmati jam demi jam napas kehidupan yang Tuhan berikan, yang kadang kita tidak menyadarinya, ketika kita hanya sibuk setiap waktu. Dan ini adalah waktu yang diberikan Tuhan untuk menikmatinya. Sekaligus memberi kita waktu terbaik untuk belajar peduli kepada orang lain. Dengan cara yang paling gampang dan sederhana yaitu tinggal di rumah.

Tentu saja, saya pun sangat sedih membayangkan sesama saya yang berpulang ke Penciptanya di masa ini. Bela sungkawa yang dalam terhadap keluarga yang ditinggalkan. Prihatin dan berdoa untuk sesama saya yang sedang menjalani perawatan, semoga semuanya bisa sembuh kembali. Juga penghormatan dari hati saya yang terdalam untuk para tenaga medis, sukarelawan dan pemerintah yang sedang bekerja bahu-membahu menyelamatkan sesamanya dan melindungi warganya.

Lalu saya yang tidak bisa berkontribusi apa-apa, apakah yang bisa saya lakukan?

Taplak Meja

Saya akan mengambil bagian saya, yaitu patuh pada pemerintah dan di waktu yang sama, saya akan mengunakan waktu ini dengan sebaik-baiknya untuk hal yang positif. Saya akan lakukan dengan memberi tantangan kepada diri saya sendiri, untuk menjahit setiap hari, menghasilkan satu karya setiap hari. Sehingga setelah masa sulit ini selesai, saya akan keluar sebagai pemenang, saya akan bangga dengan pencapaian saya sendiri, dan saya tidak akan menyesal karena tidak menggunakan waktu saya dengan baik.

Sudah beberapa hasil menjahit saya yang selesai selama masa karantina COVID-19 ini. Dan taplak meja ini adalah hasil jahitan saya kemarin. Saya akan tuliskan setiap hasil karya saya selama masa tinggal di rumah karena Covid-19, sebagai kenang-kenangan dan untuk memotivasi diri sendiri untuk terus berkarya dalam bentuk apapun, kecil atau besar, remeh-temehpun tetap menjadi cerita tersendiri.

Ide membuat taplak meja ini, terinspirasi setelah menonton video dua orang bocah laki-laki yang sudah bosan sekali di rumah, ingin pergi makan di restaurant, yang tentu saja tidak bisa dilakukan saat ini. Namun karena mereka belum mengerti apa itu COVID-19, maka kedua orang tuanya lalu mengatur meja makan dirumah mereka seperti restaurant, lalu mempersilakan kedua bocah tersebut masuk ke rumah seperti masuk ke restaurant, mengorder makanan yang mereka suka, seperti layaknya kalau mereka ke restaurant. Dan orang tuanya pun berpura-pura sebagai pelayan dan tukang masaknya.

Kain untuk taplak meja ini, sudah lama sekali berada di dalam lemari. Dan kini akan menjadi bagian cerita saya kelak, mengenang peristiwa COVID-19, peristiwa bersejarah dalam kehidupan umat manusia di muka bumi.

Aku percaya, Tuhan akan membawa kami melewati masa sulit ini, dan rancangan Tuhan ke depan, akan lebih indah dan besar, dari rancangan kami. Amien.

—- Di luar masih juga hujan—-

Latest posts by yosintaparuruk (see all)

Leave a Reply