Funeral Procession for Ne’Nesry. Procession No.11: Umpengkalao Api

Uncategorized

Funeral Procession for Ne’Nesry.

Procession No.11: Umpengkalao Api

HARI/ TANGGAL: KAMIS/ 26.07.2018 (Malam)

Prosesi Umpengkalao Api dalam rangkaian upacara pemakaman Ne’ Nesry di Ao’Gading Lilikira, dimulai sekitar pukul 18.00 menjelang malam. Beberapa pemangku adat dan orang yang dituakan dikampung, berkumpul bersama dengan keluarga yang berduka.  Pemangku adat kemudian memberikan penjelasan tentang arti prosesi Umpengkalao Api yang akan dilakukan dan cara pelaksanaannya.

Zaman dahulu, ketika nenek moyang orang Toraja masih beragama Aluk Todolo, prosesi Umpengkalao Api dilakukan seraya Mangimbo, tapi karena keluarga sudah beragama Kristen Katolik, maka tidak ada lagi ritual Mangimbo, tapi diganti dengan doa kepada Yang Maha Kuasa. Dan prosesinya juga menjadi lebih sederhana tanpa mengurangi makna upacara.

Dibicarakan bersama bahwa setiap daerah di Toraja memiliki caranya masing-masing dalam melaksanakan prosesi Umpengkalao Api. Namun disepakati bersama bahwa prosesi Umpengkalo Api pada upacara pemakaman Ne’ nesry akan dilakukan sesuai dengan apa dilakukan oleh leluhur setempat. Dan dilaksanakan berdasarkan petunjuk dari pemangku adat setempat. Sehingga apapun yang telah disepakati bersama adalah yang terbaik untuk semua. Adapun kekurangan atau kekeliruan dalam melaksanakan upacara yang mungkin terjadi karena satu dan lain hal, maka pemangku adat dan keluarga, secara sadar menyandarkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa. Semoga Yang Maha Kuasa menyempurnakannya dan menjadikannya kebaikan bagi semua umat manusia, masyarakat setempat dan keluarga besar pada khususnya.

Umpengkalao Api = Menurunkan Api. Adalah prosesi menurunkan api dari atas rumah duka. Ini dimaknai sebagai tanda dimulainya prosesi adat upacara pemakaman. Berarti seluruh kebutuhan makanan dan minuman untuk upacara, tidak boleh lagi diproses di atas rumah.

Prosesi Umpengkalao Api dimulai dengan doa kepada Yang Maha Kuasa mohon berkat dan bimbinganNya. Dilanjutkan dengan makan bersama. Setelah makan bersama, Ne’ Lili sebagai ketua panitia upacara pemakaman Ne’Nesry, kemudian mengambil api dari dapur keluarga, membawanya dari dapur melalui ruang tengah/ruang keluarga, turun ke halaman rumah dan menyalakannya di halaman rumah.

Tempat menyalakan api adalah dipilih tempat yang diperkirakan tidak akan terlalu mengganggu upacara lain nantinya. Karena diusahakan agar apinya terus menyala atau minimal bara api tetap ada selama upacara pemakaman berlangsung. Api dijaga supaya tidak padam selama upacara, melambangkan semangat yang tidak boleh padam atau tidak boleh mudur. Dan setiap api yang akan dipakai dalam upacara pemakaman akan mengambilnya dari api tersebut.

Prosesi Umpengkalao Api dilanjutkan dengan Prosesi Ma’Doya Manuk dan Ma’Doya Lompo.

yosintaparuruk

Naval Architect, Blogger, Youtuber at yosintaparuruk.com
By profession as an naval architect, has spent 15 yearsprofessional works on offshore, marine and shipbuilding business at several international companies, working in some countries. Currentlystarting slowly refrain from managing her projects and shifting to her other passions on social works, health care and natural life.
Founder of Elite Spa & Salon Bali and Soapyme Organic who has interest for natural beauty treatment, natural herbal remedy, natural and organic product,hand made product, ecogreen policy, back to nature campaign, no animal testing product campaign, social works, up cycling and recycling, DIY, interior design,sewing and craft ideas.

Recently starting build up her website www.yosintaparuruk.com, which is focusing on Toraja Culture, her hometown culture. And her youtube: Yosinta Paruruk

To know more about her recent activities and ideas, please visit her
website : www.yosintaparuruk.com

blogs :
http://elitespabali.blogspot.co.id/

http://soapymeorganics.blogspot.co.id/

https://www.facebook.com/elitespasalonbali/?pnref=lhc

https://www.facebook.com/soapymeorganic/?ref=bookmarks

---------

Latest posts by yosintaparuruk (see all)

Leave a Reply