Ma’Kaburu’, Perjalanan Ke Tempat Peristirahatan Terakhir

Philosopy Toraja, Toraja Ceremony, Toraja Culture

Ma’Kaburu’, Perjalanan Ke Tempat Peristirahatan Terakhir

 

Ma’ Kaburu’, adalah bahasa Toraja, yang artinya Penguburan

Ma’ Kaburu adalah prosesi terakhir dalam upacara pemakaman adat Toraja. Dimana inti prosesi tersebut adalah membawa peti jenazah ke tempat peristirahatan terakhir atau makam atau Kaburu’ dalam bahasa Toraja. Dan setelah itu seluruh symbol-symbol yang digunakan selama upacara pemakaman, dapat ditanggalkan.

Tapi sebelum jauh membahas tentang prosesi Ma’ Kaburu tersebut, saya ingin menyampaikan bahwa prosesi pemakaman di Toraja kadang kala dilakukan secara singkat dan sederhana. Namun ada kalanya juga dilakukan dalam prosesi yang panjang dan lebih lama.

Nah, mungkin anda bertanya kenapa demikian?

Menurut pengamatan saya, ada beberapa hal yang menjadi alasan mengapa ada pemakaman yang dilakukan singkat dan sederhana dan ada yang lebih panjang dan lebih lama.

A. Prosesi pemakaman singkat dan sederhana.

Prosesi pemakaman singkat dan sederhana diselengarakan segera setelah seseorang meninggal dunia. Persiapannya sederhana dan prosesinya juga singkat.

Berikut adalah beberapa alasan atau kondisi yang menjadi pertimbangan sehingga pemakaman segera dilaksanakan:

1. Almarhum/Almarhumah adalah seorang Muslim/Muslimah.

Walaupun orang Toraja sangat kuat memegang tradisi, dalam hal ini yang berhubungan dengan pemakaman, namun apabila orang yang meninggal beragama Islam, maka keluarga dan masyarakat akan segera melaksanakan pemakamam secara muslim.

2. Bayi yang baru lahir atau anak-anak yang masih kecil, biasanya segera dimakamkan sehari hingga seminggu setelah meninggal.

3. Korban kecelakaan atau kematian tidak wajar juga kebanyakan langsung dimakamkan.

4. Almarhum/Almarhumah tinggal di luar Toraja, namun jenazahnya dibawa ke Toraja untuk dimakamkan di Toraja.

Kadang kala di tempat beliau menetap, sudah diadakan upacara, sebelum jenazah dipulangkan ke Toraja. Sehingga ketika tiba di Toraja, jenazah diistirahatkan beberapa hari saja di rumah keluarga almarhum/almarhumah untuk memberi kesempatan kepada keluarga dan penduduk setempat untuk memberikan penghormatan terakhir.

Alasan lain, karena para keluarga dan orang-orang yang mengantar jenazah kembali ke Toraja, harus segera kembali ke tempat mereka menetap. Sehingga pemakaman dipercepat.

5. Almarhum/Almarhumah menganut aliran agama kristen yang tidak memperbolehkan upacara yang rumit untuk pemakaman. Bahkan ada yang tidak memperbolehkan pemotongan hewan kurban. Sehingga pemakaman dilakukan segera dan secara sederhana.

6. Keluarga dari orang yang meninggal tersebut tidak memiliki kemampuan materi yang akan dipakai untuk membiayai prosesi pemakaman yang panjang. Karena prosesi pemakaman yang panjang tentu saja membutuhkan biaya yang lebih besar pula.

7. Keluarga dari orang yang meninggal tersebut memiliki kemampuan secara materi untuk membiayai proses pemakaman yang lebih panjang dan rumit, tetapi mereka sudah tidak mempraktekkan lagi budaya Toraja.

8. Selain hal-hal diatas, tentu masih ada  hal-hal lain yang lebih khusus yang menjadi pertimbangan.

B. Prosesi pemakaman panjang dan lama

Prosesi pemakaman panjang dan lebih lama diselengarakan rata-rata minimal satu tahun setelah seseorang meninggal dunia. Bahkan ada yang juga pemakaman yang dilaksanakan 30 tahun kemudian. Sebelum upacara pemakaman dilaksanakan, jenazah disimpan di atas rumah tinggalnya atau rumah keluarganya.

Pada umumnya, jenazah yang tidak segera dimakamkan atau disimpan selama berbulan atau bertahun-tahun adalah dipersiapkan untuk dimakamkan dalam upacara yang lebih panjang.

Pemahaman orang luar Toraja, ketika mendengar bahwa jenazah orang Toraja disimpan bertahun-tahun di atas rumah, adalah karena belum punya uang untuk membiayai “pesta” pemakamannya. Tentu saja alasan tersebut tidak selalu benar.

Berikut ini adalah beberapa hal yang menjadi penyebab atau menjadi alasan mengapa jenazah orang Toraja disimpan lama di atas rumah, sebelum dilakukan upacara pemakaman.

1.Karena ada anggota keluarga dekat, misalnya orang tua, anak atau saudara, dari orang yang meninggal tersebut, yang belum pulang melihat jenazah orang yang meninggal tersebut pada saat beliau baru meninggal.

Mungkin karena berada di tempat lain misalnya di luar negeri, atau sementara dalam pendidikan dinas, atau sementara melaksanakan tugas pekerjaannya yang tidak bisa langsung ditinggal pulang ke Toraja. Sehingga mau tidak mau, pemakaman harus ditunda, menunggu kepulangan anggota keluarga tersebut.

2. Orang yang meninggal tersebut memiliki keluarga besar, misalnya nenek-nenek atau kakek-kakek yang meninggal di usia tua, setelah memiliki banyak cucu dan cicit.

Karena merupakan suatu keharusan bagi orang Toraja untuk mengusahakan menghadiri upacara pemakaman keluarga, apabila memungkinkan. Maka anak cucu dan keluarga dekatnya akan pulang semua ke Toraja pada saat akan dilangsungkan upacara pemakaman. Sehingga pemakaman biasanya ditunda hingga musim libur sekolah, agar anggota keluarga yang masih menempuh pendidikan di bangku sekolah, juga memiliki kesempatan untuk pulang. Itulah sebabnya, sekitar  bulan July dan Agustus adalah bulan tersibuk di Toraja.

3. Keluarga dari orang yang meninggal tersebut berencana untuk melaksanakan pemakaman dengan prosesi yang lebih banyak, yang membutuhkan biaya yang lebih besar. Sehingga keluarga menunda pemakaman sampai mereka siap secara materi.

4. Orang meninggal tersebut, direncanakan akan diupacarakan dengan prosesi yang panjang. Sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk mempersiapkan sarana, fasilitas, peralatan dan symbol-symbol upacara yang akan digunakan dalam prosesi pemakaman nantinya.

Salah satu contohnya, misalnya keluarga berencana membuatkan patung dari orang meninggal tersebut. Patung membutuhkan waktu beberapa bulan untuk membuatnya. Apalagi kalau patungnya terbuat dari batu yang dipahat manual, seperti patung Ne’ Nesry yang di buat oleh pemahat lokal, selama lebih dari 6 bulan.

Persiapan lain yang juga memakan waktu berbulan-bulan, yaitu pembangunan “Lantang” atau pondok-pondok sementara di sekeliling tempat upacara pemakaman akan dilaksanakan. Pondok-pondok ini akan menjadi tempat bermalam bagi semua keluarga yang datang mengikuti prosesi pemakaman. Persiapan Lantang, yang disebut Melantang bisa memakan waktu sampai 5 bulan, bahkan ada yang lebih dari itu, tergantung dari banyaknya jumlah pondokan yang dipersiapkan.

Nah itulah diatas beberapa alasan kenapa orang Toraja menyimpan jenazah di atas rumah selama berbulan-bulan. Mudah-mudahan bisa memberi tambahan pengetahuan kepada anda.

Perjalanan Ke tempat Peristirahatan Yang Terakhir

Akhirnya tanpa panjang lebar lagi, saya akan membahas mengenai kegiatan inti apa yang dilakukan pada hari Ma’ Kaburu, atau Penguburan.

Saya akan mengulas prosesi ini sesuai dengan apa yang dilakukan pada prosesi Ma’ Kaburu’ bagi almarhum Ne’Nesry, yang diselengarakan pada hari Sabtu 11.08.2108.

Kalau anda mengikuti tulisan saya sebelumnya, anda sudah tahu bahwa prosesi Ma’ Kaburu’ Ne’Nesry dilakukan dalam prosesi yang panjang dan sebelum prosesi Ma’ Kaburu’ dilakukan, telah dilakukan sejumlah prosesi lainnya. Ma’ Kaburu’ adalah prosesi yang ke-37 dan merupakan prosesi terakhir yang diikuti oleh seluruh keluarga.

Namun, jika anda belum membaca tulisan saya sebelumnya, silakan klik di sini, untuk mengetahui prosesi apa saja yang sebelumnya dilakukan sebelum sampai pada Hari Ma’ Kaburu’.

 

6 hal inti yang dilakukan pada hari Ma’ Kaburu’

1. Pemotongan kerbau

2. Penurunan peti jenazah dari Lakkean Sura

Yang duluan turun dari Lakkean Sura’ adalah Tobalu yang akan di bawa ke Matallo dan di beri air. Kemudian Peti Jenazah diturunkan dari Lakkean Sura’ dengan kaki duluan turun.

3. Pemasangan Bullean dan Bola-Bola

4. Ibadah Pelepasan Jenasah

Pukul 11.00 WITA sampai selesai.

5. Makan Siang Bersama

6. Mengantar Jenazah ke Tempat Pemakaman Terakhir

Kemudian Peti Jenazah diantar ke tempat Peristirahatan Terakhir. Setelah Peti Jenazah meninggalkan lokasi upacara, maka Tobalu (janda almarhum) menuju ke rumah.

 

Menghadiri Upacara Ma’ Kaburu’ di Toraja

Demikianlah prosesi Ma’Kaburu dilaksanakan. Jika anda tertarik untuk melihat langsung upacara tersebut, maka ada baiknya anda rencanakan perjalanan wisata anda ke Toraja, sekitar bulan July atau Agustus.

Oh yah, anda tidak usah kuatir atau sungkan untuk mendatangi upacara pemakaman, walaupun tidak ada orang yang anda kenal disitu. Karena keluarga atau masyarakat setempat yang berada di lokasi upacara, pasti akan menawarkan tempat duduk bagi anda, termasuk makanan dan minuman.

Anda boleh duduk menyaksikan jalannya prosesi, atau ikut membantu selama anda nyaman melakukannya, aman bagi anda dan tidak mengganggu kesakralan upacara.

Dan ingat mesti mengenakan berpakaian yang sopan. Lebih bagus lagi kalau anda memakai sarung 🙂

Mau tahu lebih banyak lagi tentang budaya Toraja? silakan follow blog saya ini ya.

Kurre Sumanga = Terima kasih.

 

yosintaparuruk

Naval Architect, Blogger, Youtuber at yosintaparuruk.com
By profession as an naval architect, has spent 15 yearsprofessional works on offshore, marine and shipbuilding business at several international companies, working in some countries. Currentlystarting slowly refrain from managing her projects and shifting to her other passions on social works, health care and natural life.
Founder of Elite Spa & Salon Bali and Soapyme Organic who has interest for natural beauty treatment, natural herbal remedy, natural and organic product,hand made product, ecogreen policy, back to nature campaign, no animal testing product campaign, social works, up cycling and recycling, DIY, interior design,sewing and craft ideas.

Recently starting build up her website www.yosintaparuruk.com, which is focusing on Toraja Culture, her hometown culture. And her youtube: Yosinta Paruruk

To know more about her recent activities and ideas, please visit her
website : www.yosintaparuruk.com

blogs :
http://elitespabali.blogspot.co.id/

http://soapymeorganics.blogspot.co.id/

https://www.facebook.com/elitespasalonbali/?pnref=lhc

https://www.facebook.com/soapymeorganic/?ref=bookmarks

---------

Latest posts by yosintaparuruk (see all)

Leave a Reply